Scroll Untuk Baca Berita Gambar Konten
Memuat berita...
Iklan

Pesan Terakhir Zulmansyah Sekedang Tegaskan Persahabatan Abadi dan Solidaritas PWI

MANADO | BITUNG POS - Dunia pers Indonesia kehilangan salah satu figur sentralnya. Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, wafat pada Sabtu, 18 April 2026, pukul 00.05 WIB di RS Budi Kemuliaan, Jakarta, akibat serangan jantung.

Namun lebih dari sekadar kabar duka, kepergian ini meninggalkan warisan nilai yang kuat: persatuan, loyalitas, dan kemanusiaan dalam tubuh organisasi pers.

Pesan terakhir almarhum menjadi sorotan utama. Dalam sebuah komunikasi singkat melalui WhatsApp, ia menegaskan nilai yang melampaui jabatan:

“Jabatan bertukar silih berganti, persahabatan dan silaturahmi sampai mati… Torang basudara.”

Bagi Adrianus R. Pusungunaung, pesan itu bukan sekadar kalimat, melainkan prinsip hidup yang akan terus dipegang.

“Saya tidak akan pernah melupakan pesan itu sampai mati,” ujarnya dengan suara bergetar.

Hubungan keduanya bukan hubungan formal organisasi semata. Ia terbentuk dari perjalanan panjang penuh dinamika, terutama saat PWI menghadapi fase dualisme kepengurusan yang kompleks.

Dalam situasi penuh tekanan tersebut, Adrian tampil sebagai satu-satunya Wakil Ketua PWI Sulut yang secara terbuka berdiri di belakang Zulmansyah dalam kubu Kongres Luar Biasa (KLB).

Keputusan itu bukan tanpa risiko. Namun bagi Adrian, integritas dan keyakinan terhadap arah perubahan menjadi landasan utama.

Meski sempat ditawari posisi strategis, termasuk sebagai Pelaksana Tugas Ketua PWI Sulut, ia memilih langkah berbeda: memperkuat tim, bukan mengejar jabatan.

“Saya lebih melihat masa depan organisasi. Saya percaya figur yang tepat bisa membawa perubahan,” ungkapnya.

Perjalanan konflik akhirnya menemukan titik terang. Rekonsiliasi nasional terjadi dalam Kongres Persatuan di Cikarang, Jawa Barat, pada 30 Agustus 2025.

Momentum tersebut menandai berakhirnya dualisme, sekaligus memperkuat fondasi baru organisasi. Akhmad Munir terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat periode 2025–2030, sementara Zulmansyah dipercaya sebagai Sekjen.

Di tingkat daerah, dinamika juga menunjukkan kedewasaan organisasi. Adrian mengapresiasi sikap Voucke Lontaan yang tetap merangkul semua pihak, bahkan setelah melalui konflik keras.

“Ini bukan hal yang umum. Tapi di situlah nilai besar sebuah organisasi diuji,” katanya.

Pernyataan serupa juga pernah disampaikan Vanny Loupatty dalam forum resmi, menegaskan bahwa konflik bukan berasal dari daerah, melainkan dinamika pusat yang berdampak luas.

Beberapa hari sebelum wafat, tepatnya 16 April 2026, Zulmansyah masih aktif berkomunikasi. Dalam percakapan telepon, ia menekankan pentingnya menjaga marwah dan soliditas PWI.

Pesan itu kini terasa semakin relevan—bahwa kepemimpinan sejati tidak berhenti pada jabatan, tetapi hidup dalam nilai yang ditinggalkan.

Kepergian Zulmansyah Sekedang menjadi kehilangan besar, namun juga pengingat kuat: organisasi boleh berubah, jabatan bisa berganti, tetapi persahabatan dan persatuan harus tetap abadi.

“Saya pribadi mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan kebaikan almarhum. Selamat jalan, Bapak Sekjen,” tutup Adrian. RED
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Iklan